dhn-api
Version:
An Example Api's
10 lines • 63.6 kB
JSON
[
"Cerpen Persahabatan – Sahabat Kecilku\n“Ini, buat kamu”, seraya menjulurkan bunga edelweis“Ini kan…”, belum sempat ku menyelesaikan kata kataku, tiba tiba dia memotong ucapanku“Iya, dulu kan kamu pernah minta ini kalau aku sudah pulang dari luar negeri” , jelasnya\nTernyata dia sama sekali tidak lupa, meskipun sudah 4 tahun tidak pernah saling menghubungi. Bunga yang melambangkan keabadian ini, memang sudah sejak lama aku menginginkannya. Tak ada yang berubah. Meskipun sudah 4 tahun aku tak melihatnya. Garis wajahnya, rambutnya yang ikal, alisnya yang hitam tebal, bola matanya yang bulat coklat, msh sama seperti dulu. Sudah sejak kecil aku mengenalnya. Dia tetangga baruku sewaktu aku kecil“Nama kamu siapa?“Aku Ines, kamu?“Aku Tio“Kamu pindah darimna?“Dari luar kota, karena Papa ku lagi ada urusan bisnis di sini, jadi kami terpaksa pindah ke sini“Hmm. Aku senang punya teman baru. Semoga kita bisa berteman baik ya“Iya, aku juga\nSejak saat itu aku menjadi akrab dengannya. Main bersama, jalan jalan bersama keluarganya dan keluargaku. Dan kami pun berjanji untuk tetap bersahabat baik hingga besar nanti. Ketika suatu hari ia mengajakku ke taman dekat rumah, sepertinya ada hal penting yang ingin ia bicarakan“Minggu depan aku akan pindah“Pindah kemana? Kenapa mendadak?“Ke luar negeri. Sebenarnya aku ingin memberitahumu sejak awal, tapi aku takut kamu sedih lalu menjauh darikuSebenarnya aku juga sudah tahu kalau dia ingin pindah ke luar negeri. Mamah yang memberitahuku. Ku kira itu hanya\nomongan saja, tapi ternyata…\n“Kamu mau minta hadiah apa dariku?“Apa aja?“Iya. Apa yang kamu mau, aku akan kasih“Kamu tahu kan, kalau dari dulu aku sangat menginginkan bunga itu?“Edelweis? Hanya itu saja?“Iya, hanya itu saja“Baiklah\nTiba tiba ia menyadarkan lamunanku. Membuat pandanganku membaur. Ia mulai mengungkapkan sesuatu“Maaf…”, kata katanya terputus“Aku tak bisa lama lama tinggal d sini”, sambungnya“Kenapa?” tanyaku penasaran“Maaf, aku baru bisa memberitahumu sekarang. Karena aku akan balik lagi ke luar negeri. Bulan depan aku akan menikahGlek. Menikah\nTiba tiba pandanganku menjadi buram. Bayangan wajahnya perlahan menghilang di telan bayangan“Ines… Ayo bangun! Sudah jam setengah 9. Nanti kamu telat kuliahnya!“Yaahhh, Mamah… Lagi nanggung juga mimpinyaTernyata hanya mimpi. Aku menghembuskan nafas lega\n",
"Cerpen Persahabatan – Siput dan Wijen\nPagi yang cerah, seorang gadis yang bernama Putri membuka jendela kamarnya dan membiarkan sinar matahari untuk masuk ke dalam kamarnya. “Hoamm, sejuk sekali udara pagi ini” ucap Putri sambil menghirup udara. “Ting ting” handphone Putri berbunyi tanda pesan singkat masuk. Seketika Putri langsung mengambil handphonenya dan membuka pesan singkat tersebut, ternyata itu dari Wijay teman Putri. “Pagi” begitu pesannya. “Pagi juga” Putri membalas. “Put, hari ini bisa tidak kita bertemu?” tanya Wijay pada Putri. “Emangnya mau ngapain?” balas Putri penasaran. “Sudah, nanti datang saja jam 10, aku tunggu di lapangan ya” balas Wijay kembali. “Baiklah” balas Putri\nPutri pun langsung mempersiapkan diri untuk datang menemui Wijay di lapangan. Ia segera mandi, dan setelah itu berdandan. Ketika Putri akan memakai baju, ia bingung ingin mengenakan baju yang mana. Dipilihnya baju berwarna ungu dengan motif bunga-bunga, celana putih, serta jilbab yang berwarna ungu. Setelah ia puas dengan apa yang ia kenakan, ia pun segera turun ke bawah untuk menemui Ayah dan Bundanya di meja makan. “Pagi Yah, pagi Bun” sapa Putri di meja makan pada Ayah dan Bundanya. “Pagi Putri” balas mereka hampir bersamaan. “Ayah, pagi ini Putri mau ke lapangan” ucap Putri. “Loh, mau ngapain?” tanya Ayah penasaran. “Itu, Wijay mau ketemu di lapangan jam 10 nanti” jawab Putri polos. “Oh begitu, ya sudah. Tapi maaf ya Put, Ayah nggak bisa nganter” ucap Ayahnya. “Iya Ayah, tidak apa-apa” balas Putri. Setelah itu Putri menghabiskan makanannya dan meminum segelas susunya sampai habis\nSetelah semuanya selesai, Putri langsung berpamitan kepada Ayah dan Bundanya. “Ayah Bunda, Putri berangkat dulu” ucap Putri berpamitan. “Iya Put, hati-hati ya” balas Bundanya. Setelah itu Putri mengayuh sepedanya dan menuju ke lapangan. Setelah menempuh waktu kurang lebih 10 menit, Putri akhirnya sampai di lapangan, dicarinya Wijay kesana kemari. Dan sampai akhirnya… “Putri!!!” seru seorang anak memanggil Putri. Seketika Putri pun menoleh ke sumber suara. “Hai! Wijay” ucap Putri tiba-tiba. “Hai” balas Wijay. “Mau ngapain sih kesini? Mau mentraktir aku?” ucap Putri dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi. “Yee, traktir terus sih pikirannya” sungut Wijay sedikit kesal. “Iya iya, emang mau ngapain Kak Wijay yang paling WOW” ucap Putri dengan nada tak ikhlas. “Hmm, gini loh Put, kamu inget gak ini hari apa?” tanya Wijay pada Putri. “Ya inget lah, ini kan Hari Selasa” jawab Putri dengan mudahnya\n“Kok hari selasa sih? bukan itu maksudku” ucap Wijay sambil berharap. “Emm, emang hari ini hari apa sih?” tanya Putri dengan kepolosannya. “Yah Putri lupa, hari ini kan hari ulang tahunku” ucap Wijay dengan nada sedih. “Oh ya? Maaf aku lupa” balas Putri dengan nada menyesal. “Tak apa, ini ada birthday card buat kamu” ucap Wijay sambil memberikan kartu undangan tersebut. “Wah wah, ada pesta nih keliatannya” ledek Putri. “Hehe.. Iya nih, mumpung ada rezeki” balas Wijay. “Iya Alhamdulillah” jawab Putri turut senang. “Datang ya Put” pinta Wijay. “Insyaallah” ucap Putri tersenyum. “Lahh, pokoknya harus dateng!!” Wijay memaksa. “Loh? siapa tahu nanti aku sampai rumah udah gak ada, makanya aku bilang Insyaallah” jawab Putri bijak. “Kok gitu ngomongnya? serem banget” ucap Wijay keheranan. “Hmm, sudahlah lupakan saja” balas Putri tersenyum\nSetelah selesai bertemu, Putri pun berpamitan kepada Wijay untuk segera pulang ke rumah. “Aku pulang dulu ya Jay” ujar Putri. “Baiklah” jawab Wijay sedikit lesu. “Bye bye.. sampai bertemu di pesta ya” ucap Putri sambil mengedipkan sebelah matanya. “Oke oke” balas Wijay sambil mengedipkan sebelah matanya pula\nSetelah sampai di rumah, Putri langsung membuka kartu undangan tersebut. “Emm, jam 4 sore toh pestanya” ucap Putri sambil mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti. “Loh? Berarti aku harus membeli hadiah untuk Wijay? Tapi apa ya?” ucap Putri lirih. Tiba-tiba Bunda Putri datang menghampirinya. “Ada apa Put?” tanya Bunda pada Putri. “Ini Bunda, tadi ternyata Wijay ketemu sama Putri, cuma mau ngasih kartu undangan ini” jelas Putri pada Bunda. “Terus?” jawab Bunda tak mengerti. “Yah Bunda, Putri kan mesti beli hadiah buat Wijay?” ucap Putri. “Oh begitu, ya sudah, belikan Wijay barang kesukaannya” Bunda memberi saran. “Emm? Jam tangan!” celetuk Putri. “Jam tangan? Itu barang kesukaannya Wijay?” tanya Bunda\n“Iya Bunda, Wijay paling suka sama jam tangan” seru Putri. “Ya sudah, nanti Bunda antar ke toko jam tangan ya?” ucap Bunda. “Nanti? Sekarang lah Bunda, undangannya kan jam 4?” ucap Putri mendesak Bundanya. “Hmm ya udah deh, Bunda ganti baju dulu ya” ucap Bunda menuruti permintaannya. “Oke Bunda, jangan terlalu lama yaa” kata Putri. Bundanya tak berkata apapun hanya membalas dengan sebuah senyuman\nPutri meununggu sudah lebih dari 5 menit. “Bunda lama amat sih ganti bajunya” batin Putri berkata. Tak lama dari itu, Bunda Putri keluar dari kamarnya. “Maaf ya, kalau lama” ucap Bunda. “Ya tidak apa-apa” jawab Putri cuek. Selanjutnya Putri langsung menuju depan rumah, dan Bunda Putri mengunci pintu rumah. Setelah semua itu selesai, Bunda dan Putri pun berangkat ke toko jam tangan. Putri segera berlari ke dalam toko jam tersebut, dan langsung melihat-lihat jam tangan yang dipajang. Seketika langkah Putri berhenti di depan jam tangan yang berwarna hitam\nPutri segera memanggil Bundanya “Bundaaa” ucap Putri setengah berteriak. “Ada apa?” balas Bunda sambil menghampiri Putri. “Mau itu” ucap Putri kembali sambil menunjuk jam tangan tersebut. “Yang itu?” tanya Bunda. “Iya” jawab Putri singkat. “Baiklah” ucap Bunda menuruti. “Mas mas, saya ambil yang ini ya?” ucap Bunda Putri kepada petugas toko. “Baik Bu” balas petugas toko dengan ramah. Setelah Bunda Putri membayar di kasir, mereka pun pulang ke rumah\nSesampainya di rumah, Putri segera membungkus jam tangan tersebut dengan kertas kado kesukaannya. Perlahan tapi pasti! Putri membungkus dengan sepenuh hati, karena hadiah itu untuk sahabat kesayangannya. Seselesainya Putri membungkus kado, Putri langsung mempersiapkan diri untuk pergi ke pesta ulang tahun Wijay. Lagi lagi, Putri kalah dalam hal berpakaian. Putri bingung harus mengenakan pakaian yang mana. “Bundaa!” teriaknya kencang. “Ada apa Put?” ujar Bunda sambil melangkah mendekati Putri. “Bundaa, Putri tak mengerti harus memakai baju yang mana?” keluh Putri\n“Gunakan saja yang menurutmu layak untuk dipakai” ucap Bunda tersenyum. Putri pun tak mengeluarkan sepatah kata pun. Putri terus mengukir apa maksud Bundanya tadi. “Mungkin memang aku harus mengenakan apa yang selayaknya aku kenakan” batinnya tersenyum. Lalu Putri mengambil baju yang berwarna Putih, celana jeans hitam, dan yang terakhir kerudung hitam. Tanpa berpikir panjang, Putri langsung mandi dan mengenakan pakaian yang telah dipilihnya tadi. Setelah dirinya siap, Putri pun langsung berangkat ke rumah Wijay\nTernyata telah banyak orang yang sudah datang. “Putriii!” panggil seseorang. Putri pun langsung mencari siapa yang memanggilnya tadi. Ternyata ia adalah teman sekelasnya, Nikmah. “Ehh kamu Kem?” ucap Putri. “Ahh Nikem terus? Jelek tau!” sungut Nikmah kesal. “Iya iya deh, ada apa?” tanya Putri. “Tidak, cuma mau nanya kamu kasih hadiah apa ke Wijay?” ujar Nikmah. “Emm? Adadeh kepo banget sih” ledek Putri. “Yeee.. nimbang nanya doang, pelit amat sih!” celetuk Nikmah. “Privasi dong” ucap Putri di telinga Nikmah dan pergi meninggalkannya\nPutri mencari Wijay kesana kemari, namun tak ada hasil. Lelah pun menghampiri Putri, akhirnya Putri pun memutuskan untuk duduk di bawah pohon mangga. “Nih minumnya” seseorang menyodorkan minuman tepat di depan muka Putri. Serentak Putri kaget, ternyata itu adalah Wijay. “Huuu Wijay ngagetin aja!” gerutu Putri. “Iya maaf maaf” ucapnya meminta maaf.. “Iya deh gak apa-apa” ucapnya. “Oiya! Nih kadonya” celetuk Putri. “Wahh.. Terimaksih sahabatku” ucapnya sambil tersenyum manis. “Oke deh sama-sama. Wle” balas Putri sambil menulurkan lidahnya. “Jelek” celetuk Wijay. “Oh gitu, ya sudah aku pulang!” ucap Putri dengan nada ngambek. “Jangan-jangan dong, aku kan cuma bercanda” jelas Wijay. Putri tak membalas perkataannya lagi, ia hanya diam, diam dan diam\nSaatnya acara tiup lilin. Wijay sudah bersiap di depan kue ulang tahunnya. Semua teman-temannya serempak menyanyikan lagu ulang tahun untuk Wijay. Setelah tiup lilin, kini saatnya first cake. Ya! Wijay memberikan first cake itu untuk bundanya tercinta. Tak lupa Wijay ucapkan terimakasih atas kehadiran teman-teman di acara pesta ulang tahunnya tersebut\nSebelum acaranya selesai, Wijay memberi pengumuman lewat pengeras suara. “Teman-teman, ini hari ulang tahunku yang sangat amat spesial. Karena di acara ulang tahunku sekarang ini, sahabat kesayanganku hadir disini” ucap Wijay. Wijay tak meneruskan ucapannya tadi, ia diam mematung. Tapi tiba-tiba… “Putrii!” celetuknya dengan sangat keras. “Hah?” ucap Putri tercengang. Semua mata langsung tertuju pada Putri yang berdiri di samping Nikmah. “Sini Put, maju ke depan” ucap Bunda Wijay. “Apaan sih Jen? Kok aku?” ucap Putri tak mengerti. “Kok Jen? Apalagi itu?” Wijay berbalik tanya. “Jen.. Wijen. Hahaha” ucap Putri tertawa geli\n“Huhh dasar Siput. Wle” ucap Wijay sambil menjulurkan lidahnya. “Loh? Kok Siput?” ucapnya penasaran. “Yoi, Siputri. Hahaha” ucapnya tertawa pula. “Ah sudahlah” ucap Putri lemas. “Haha, mulai sekarang aku panggil kamu Siput” ucap Wijay. “Okee, aku juga panggil kamu Wijen!” balasnya tak mau kalah juga. “Baik, Siput dan Wijen” ucap Wijay. “Hahahaha, itu konyol!” ujar Putri tertawa. “Yang penting happy” balas Wijay. Teman-teman Wijay dan Putri pun ikut tertawa geli juga mendengar Wijen mengatakan hal itu.",
"Cerpen Persahabatan – You’ll Never Know\nMatahari mulai memunculkan sinarnya di ufuk timur bumi, tanda hari kini sudah pagi. Ayam-ayam berkokok serentak membangunkan orang orang yang masih terlelap dalam tidur mereka. Carla terbangun dari tidur nyeyaknya dan segera beranjak menuju kamar mandi untuk segera bersiap-siap menuju sekolahnya\n“Carla cepatlah, kita bisa terlambat” teriak Mafalda sahabat sekaligus teman sekamar di tempat kost yang di sewa nya\n“sebentar” Carla berteriak balik dan segera keluar dari kamarnya sebelum Mafalda meninggalkannya\n\nMereka berjalan beiringan menuju sekolah yang sama, namun mereka tidak berada dalam kelas yang sama. Carla berada di kelas Bahasa sedangkan Mafalda berada di kelas Ipa. Hari itu mereka tepat waktu atau lebih tepatnya tepat ketika bel berbunyi mereka sampai di depan pintu gerbang sekolah. Mafalda segera berlari menuju kelas nya begitupun dengan Carla\n“syukurlah aku tidak terlambat lagi” gumam Carla saat memasuki kelasnya\n\nCarla berjalan menuju tempat duduknya yang berada di sebelah Olivia, dan berada persis di depan bangku Joshua, teman sekelasnya yang selalu membuat lelucon konyol dan juga biang keributan di dalam kelas. Dan Carla juga sering menjadi penyebab salah satu keributan itu bersama dengan Joshua\n“Carla” Joshua memanggilnya saat pelajaran baru saja dimulai\n“aku bawa kartu poker. Ayo kita main” ajaknya dengan tersenyum lebar\n“jangan! Ini sedang jam pelajaran, mainlah nanti” cegah Olivia\n“Ayo!” seru Carla bersemangat sementara Olivia dan Jason teman sebangku Joshua hanya menghela nafas pasrah oleh tingkah laku kedua teman mereka itu\n\nJoshua dan Carla sibuk dengan dunia mereka sendiri sementara guru mereka sedang menjelaskan pelajaran di depan. Tanpa mereka sadari guru itu mengetahui bahwa Carla dan Joshua tidak memperhatikan pelajarannya tanpa memberi peringatan dia pun langsung mendatangi tempat duduk mereka berdua\n“apa yang kalian lakukan?!” bentaknya\nCarla dan Joshua yang kaget langsung memasukkan kartu mereka ke dalam saku seragam masing-masing\n“tidak apa-apa, pak” ucap mereka bebarengan\n\n“Carla sejak kapan papan tulis menghadap ke belakang?! Hadap ke depan!” serunya dan Carla langsung membalikkan tubuhnya\n“kembali perhatikan pelajaran!” seru guru itu sebelum kembali melanjutkan pelajarannya\nSementara disisi lain Carla dan Joshua justru menertawakan entah hal apa yang menurut mereka lucu. Walaupun hanya terkikik pelan namun keadaan kelas yang sepi membuah mereka sangat mudah tertangkap\n“Carla, Joshua. Keluar dari kelas saya sekarang!!” guru itu berteriak, yang membuat Carla dan juga Joshua terdiam seketika\n\nSetelah mencoba meminta maaf namun tidak ada gunanya, akhirnya Carla dan Joshua pun keluar dari kelas dan duduk di taman yang berada di depan kelas mereka. Mereka saling bercakap-cakap dan seperti biasa membicarakan lelucon lelucon konyol dan akan tertawa bersama-sama atau lebih tepatnya Carla yang akan tertawa hingga memegangi perutnya\n\nTepat saat mereka masih duduk di taman, Mafalda lewat di koidor kelas mereka dan melihat Carla berada di luar kelas\n“Carla” Mafalda melambaikan tangannya pada Carla yang masih sibuk tertawa “kenapa kau tidak berada di kelas?” tanyanya\nCarla pun menghentikan tawanya dengan susah payah dan berjalan menuju Mafalda “aku mendapat hukuman bersama dengan Joshua” jawab Carla\n\n“yah, jangan sering bermain di kelas! Dasar kau. Ya sudah aku kembali ke kelas dulu” ucap Mafalda sebelum kembali ke kelasnya\n“siapa tadi?” tanya Joshua saat Carla kembali menghampirinya\n“Mafalda, temanku” jawab Carla\n“hey, boleh aku minta nomer ponselnya?” pinta Joshua\n“minta saja sendiri” ucap Carla sambil menjulurkan lidahnya\n\nTanpa di duga Joshua langsung berdiri dari duduknya dan berlari menghampiri Mafalda yang belum sempat masuk ke dalam kelas. Tentu Mafalda langsung memberikan nomer ponselnya karena dia tau bahwa Joshua adalah teman dari sahabatnya sendiri\n\nBeberapa minggu berlalu setelah Joshua meminta nomor ponsel Mafalda dan akhir-akhir ini dia juga sering menanyakan hal-hal yang bersangkutan dengan Mafalda pada Carla. Carla yang tidak tau apa maksud Joshua sebernarnya pun memberitahukan apa yang dia tau tentang Mafalda. Warna kesukaan barang barang kesukaannya dan lainnya\n\nSampai pada suatu hari, Carla tidak tau kenapa Joshua tiba-tiba menghindarinya. Dia bahkan tidak berbicara sama sekali pada Carla bahkan saat Carla mencoba bertanya padanya. Dia akan memutar tempat duduknya ke arah lain saat Carla mencoba menanyakan sesuatu padanya atau mengajaknya berbicara\n“apa yang sebenarnya terjadi padamu, huh?” tanya Olivia pada akhirnya yang mengetahui perubahan sikap Joshua yang sangat drastis\n“frustasi mungkin” canda CarlaDan Joshua sama sekali tidak menjawab pertanyaan mereka\n“sudahlah biarkan saja. Dia akan segera baikan” ucap Jason\n\nDan beberapa hari setelah itu Carla baru mengetahui bahwa Joshua telah menyatakan perasaannya pada Mafalda, temannya sendiri. Tidak bisa di pungkiri bahwa Carla merasa sedih karena sejujurnya dia menyimpan perasaan pada Joshua sejak lama. Dan dia baru menyadari mengapa Joshua selalu menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan Mafalda. Apakah mungkin itu juga yang membuat nya menghindari Carla selama ini“wah, jadi kau menerimanya. Selamat!” ucap Carla sambil tertawa riang di depan Mafalda saat sahabatnya itu memberitahunya bahwa dia telah resmi berpacaran dengan Joshua\n\n“aku kira dia menyukaimu” ucap Mafalda yang membuat Carla terdiam sejenak\n“tentu saja tidak. Kami hanya teman biasa” ucapnya\n“aku tau. Terima kasih” gumam Mafalda dan memeluk erat sahabat terbaiknya itu\n\nCarla berangkat ke sekolah seperti biasa walaupun Mafalda sudah berangkat lebih dulu karena dia terlambat bangun pagi tadi. Sampai di kelas di menemukan Joshua yang sudah kembali berubah seperti dulu, Joshua yang periang dan selalu menceritakan lelucon lelucon konyolnya\n\n“jadi kau menghindariku beberapa hari ini karena kau sudah berpacaran dengan Mafalda?” tanya Carla saat mereka sudah kembali menjadi biang keributan di kelas\n“ha? Eum- aku hanya. Yah hm” jawab Joshua bingung atas pertanyaan Carla\n“hahaha oh ya, selamat ya!” ucap Carla yang melihat kebingungan di wajah Joshua\n“terima kasih” ucapnya\n\n‘you’ll never know what i feel’ batin Carla sedih dalam hatinya",
"Cerpen Persahabatan – Sahabat Itu Ga Ada Putusnya\nAku masih menatapnya tidak percaya saat ia mengatakan dengan jelas, di depan wajahku, dia memutuskan tali persahabatan yang telah terjalin sejak lima tahun yang lalu. Aku menggeleng-geleng, menatapnya nanar. Persahabatan yang telah susah payah dibangun dengan rasa sabar, hancur untuk alasan yang tidak kuketahui? Hoh, memalukan. Apa persahabatan ini serapuh itu\n“Kamu kenapa? Aneh. Jangan bercanda di saat-saat seperti ini, deh. Kenapa kamu tiba-tiba datang kesini, sambil berteriak kencang seolah-olah aku ini orang tuli, ‘persahabatan kita putus!’ apa itu cara yang baik untuk mengerjaiku?!” suaraku meninggi. Biar ini hanya bercanda, ini sungguh menyebalkan. Otakku masih berputar-putar, masih mencari-cari alasan ia mengatakan hal itu. Sudah jelas, ia tak mungkin mengatakannya untuk bercanda. Ia pasti punya alasan mengapa ia mengutarakan hal itu di depan wajahku tanpa memikirkan apa yang sedang dikatakannya\n“Aku kecewa sama kamu. Kecewa!” teriaknya. Kata-kata itu cukup mampu menusuk jantungku\nKami berargumen sangat lama, dengan cukup alot, hingga akhirnya aku kesal dan pergi. Ngapain masih disitu, memperjuangkan persahabatan yang memang sudah jatuh ke jurang? Aku juga masih punya harga diri untuk mengusiknya lagi. Biar saja dia bersama dengan teman-teman barunya, kita lihat saja siapa yang terbaik!\n\nSebentar lagi, ketika mereka sudah tidak membutuhkan kamu lagi, kamu pasti kembali padaku! Kamu pasti malu!\n\nDia mengatakan, aku telah merebut orang yang disukainya. Pasti anak-anak penyebar gosip itu lagi. Kenapa sih mulut mereka itu tidak bisa direm? Seharusnya mulut-mulut mereka itu ikut dioperasi agar tidak bisa lagi menyebarkan hal yang nggak jelas kebenarannya. Huh\nEsoknya, aku berangkat sekolah dengan wajah sedikit menyeramkan. Semalam aku tidak tidur, hanya tertawa dendam dan kesal-kesal sendiri. Aku rasa aku sudah gila. Pada saat acara sarapan pagi. Aku memelototi seluruh anggota keluargaku yang ada di meja makan. Ayah, ibu, kakak. Mereka semua telah dapat mataku yang mematikan ini. Mereka salah tingkah. Kakakku mengejekku lagi, ‘dasar perempuan mengerikan!’ sahutnya dari kejauhan\n“Kalau kau bicara lagi, besok kepalamu akan tergantung di depan sekolah,” ancamku sambil tersenyum licik. “Khu, Khu, khu…\nDi sekolah, aku langsung menuju kelasku, dan menduduki bangkuku tanpa menoleh sedikitpun ke arah belakang. Aku membiarkan bangku di sebelahku kosong. Daripada tasku harus tertindih, lebih baik ia mendapatkan kursi kosong itu sebagai tempat yang layak. Aku menggambar-gambar anime dan berusaha tidak menolehSalah satu dari mereka, mulai menunjukkan kekesalannya padaku. Karen menggebrak mejaku dengan kerasnya. Aku sama sekali tidak terkejut ataupun kesal karena dibandingkan ini, penganiayaan kakakku di rumah jauh lebih kejam, hehe\n“Sudah ditinggal sahabat begitu masih sombong. Pura-pura kuat. Memangnya kamu tidak punya rasa malu sampai-sampai mendekati cowok orang?!” bentaknya khas. Aku berdiri. Semua kata-kata yang akan kukeluarkan adalah kata-kata yang sudah kurancang selama semalaman penuh\n“Hei, berisik. Seharusnya aku yang tanya pada kalian, apa kalian tidak malu menyebarkan berita bohong seperti itu dan menghancurkan persahabatan orang?!” bentakku. “Kalau nggak tahu apa-apa, lebih baik diam dan jaga mulut lentur kalian itu. Dan, jangan campuri urusan orang. Apa kalian senang jika melihat orang menderita, hah?!\n“Tch…” Karen menggerakkan tangannya, ia mungkin ingin menamparku“Tampar saja kalau berani. Setelah kamu menamparku, tulang punggungmu akan kupatahkan dan kau akan kugantung di depan ruang kepala sekolah. Mau?Akhirnya dia menarik tangannya kembali, lalu duduk di bangkunya sambil mengumpat padaku\n—\n\n“Sebenarnya kenapa sih kamu?” Aku masih tidak mengerti. “Tiba-tiba percaya dengan pembicaraan mereka, padahal kita sama-sama tahu kalau sifat mereka seperti itu!“Aku nggak bisa percaya sama kamu lagi,” Isaknya. “Kamu jahat. Kamu ‘kan tahu aku suka sama Zumi. Kenapa kamu malah deket-deket dia?\n“Yumi, aku nggak bermaksud deket-deket, tapi memang ada pekerjaan yang harus kita selesaikan, itu alasannya…\n“Aku nggak percaya…” Dia tambah terisak. “Risa jahat!\nDia lalu berlari tanpa mendengarku. Aduh, gimana nih? Mungkin lebih baik aku bicara pada Zumi agar semua masalah selesai. Tapi, buat apa aku ngomong sama dia? Alasan apa yang harus aku bicarakan, ‘jelaskan kalau kita bukan apa-apa.’ Lalu dia akan bertanya, ‘memangnya kenapa?’ lalu aku jawab, ‘Yumi marah sama aku karena dia mengira kita pacaran.’ Lalu, berarti perasaan Yumi pada Zumi akan terbongkar. Sama saja menyiram bensin di atas api. Oh, oh, itu pikirkan nanti saja. Yang penting, Zumi harus kupaksa untuk bicara semuanya. Yeay!\n\n“Zumi, teman-teman mengira kita sedang dalam hubungan yang lebih dari teman, mereka salah paham, jadi mereka bermasalah denganku. Bisa bantu aku menjelaskannya?” akhirnya aku menemukan alasan yang tepat\n“Biar kutebak. Anak-anak bermulut setan itu?” ujarnya emosi. “Baik. Biar aku jelaskan pada mereka. Mereka memang tidak bisa berhenti beraksi.\nZumi bersedia membantuku. Esoknya, aku menyeret paksa Zumi ke hadapan anak-anak itu. Beberapa ada yang mencibir, mengejek, menghina, dan ucapan-ucapan menyakitkan semacamnya. Aku tidak begitu menghiraukan. Nggak ada gunanya juga\n“Jadi begini,” Zumi menjelaskannya dnegan gugup. “Kami ini sama sekali tidak ada apa-apa. Ingat festival pekan seni budaya yang akan diadakan minggu depan? Kami berdua diperintahkan oleh kepala sekolah untuk membuat event-event di dalamnya menjadi lebih hidup, dan mengatur jalannya festival. Kami juga bertanggung jawab atas dekorasi, tiket dan letak-letak stand. Jadi sejauh ini, kami hanya partner sementara yang disewa oleh sekolah untuk kelangsungan pekan seni budaya. Mengerti?“Jadi, kalian sebenarnya tidak ada apa-apa?” Yumi membuka mulutnya\n“Tidak,” Zumi menjawab. “Semua ini adalah tugas dari sekolah. Ingin lebih akurat? Mau kupanggil kepala sekolah untuk menjelaskannya sekarang?“Eh, tidak perlu repot-repot,” Karen mengelak. “Kami percaya kok.\nLalu gerombolan sial itu pergi ke luar, atau lebih tepatnya kabur. Aku dan Yumi sama-sama tersenyum, lalu kami berpelukan. Ia meminta maaf karena sempat tak percaya padaku. Tentu, aku memaafkannya. Persahabatan kami terjalin kembali. Lalu, kami berdua menatap ke arah Zumi, yang keheranan dengan sikap kami berdua\n“Sebenarnya ini ada apa sih? Kok jadi drama gini?” tanyanya bingung\nAku tersenyum. Biar saja waktu mengungkap rahasia ini pada saatnya…",
"Cerpen Persahabatan – Sahabat Jadi Cinta\nNama gue Liliana Septi Anugrah pratama. Gue biasa dipanggil Lili. Gue memang bukan cewek yang sempurna. Inget, di dunia ini nggak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah. Gua terkenal sebagai cewek tomboy yang maniak basket. And you know? Bagi gue basket is my soulmate. Ada saat suka maupun duka\nDah deh kenalannya. Sekarang ngomongin cinta (ceile… cinta). Jangan salah loh cewek tomboy juga punya cinta\nYa, dialah Andika Widi Gusmawan, biasa di panggil Widi. Cowok pendiem, ganteng, manis and super duper keren. Dialah cowok yang bener-bener bisa buat gue jatuh cinta. Walaupun dia bukan yang pertama tapi I hope dia yang terakhir. Amin\nGue kenal Widi dari awal gue masuk SMA. Kita sekolah di tempat yang sama bahkan di kelas yang sama. Awalnya kita nggak pernah saling nyapa. Bahkan, di hari pertama kita masuk kelas, kita berebutan bangku. Haduh, kesan pertama kok gini amat sih\nHingga akhirnya gue sebagai cewek tomboy yang punya jiwa friendly ngeberaniin diri buat ngobrol dan minta nomor hapenya. Trereng, Waca. Nomor hape dia sudah ada di tangan. Cowok mana sih yang berani nggak ngasih nomor hape sama cewek manis and imut seantero bumi dan mars. (Hahaha, lebay, narsis, GR and kePDan jadi satu)\n\nAwalnya kikuk sih, paling-paling sms cuman nanya lagi apa, dah makan belum dan beribu kalimat-kalimat nggak jelas yang sudah pasti ketahuan cuman basa-basi doank. Hehehe\nYa, hubungan kita flat dan monotone. Ya iyalah secara gue saat itu belum punya perasaan sama dia. Belum fallin love gitu. Saat itu gue juga punya cowok sebenarnya tapi gue jarang sms an atau pun telepon. Cowok gue ini tipe cowok yang basi abis. Susah diajak bercanda tapi bukan kutu buku atau bintang kelas gitu. Pokoknya basi deh\nSuatu hari, gue sms Widi dan yang bales ceweknya. Waduh, gawat ini ntar difikir gue cewek perusak rumah tangga orang. Eits salah, maksud gue perusak hubungan orang lain. Gue jadi males deh sms dia\nHari-hari gue terasa garing tanpa sms dari dia. Setelah hampir seminggu kita nggak sms an tiba-tiba dia sms\n“Hay Friend.”, tertera kalimat itu di layar hapeku“Waduh, tumben nih anak sms.”, batin gue“Hay juga. Tumben sms nggak takut dimarahin mbak pacar nih. Hahaha.”, balasku“Nggak boleh iya sms? Dah the end.”, jawabnya“Boleh. Hapeku terbuka untuk siapa aja yang lagi buang gratisan. Dah berapa episode kok dah the end sih? Haha“Hahaha, males pacaran sama anak kecil dikit-dikit ngambek. Mending ngejomblo. BEBAS gitu.\nBeberapa hari kemudian gue denger dia deket sama kakak kelas gue. Waduh playboy juga nih anak. Tapi dia malah makin sering sms gue setelah punya pacar baru. Ya sharing-sharing gitu lah. Makin ke sininya kita jadi akrab banget\nKita di kelas sudah kaya tikus dan kucing. Kocak and gokil abis. Tiap hari berantem dan tau nggak kata temen gue dimana ada gue di situ ada Widi. Emang iya? Nggak juga kali\nPokoknya kelas gue nggak pernah sepi dari kegokilan kita. Saking akrabnya gue jadi ngrasa nyaman dan mulai fallin love sama diaTapi gue sadar dia cuman nganggap gue sebagai sahabat, nggak lebih. Dia pun masih punya cewek dan ceweknya itu kakak kelas gue dan sahabat gue juga\nPagi ini dia cerita dia putus sama kakak kelas gue. Dalam hati sebenarya gue seneng banget. Hari ini dia datang ke sekolah dengan muka kusut. Kaya benang aja kusut. Tapi saat jam pelajaran gue nggak lihat dia ada di kelas. Dia bolos. Hellow, masih jaman iya galau karena putus cinta\nBeberapa hari kemudian gue denger dia deket sama temen seangkatan gue tapi beda kelas, Puspa. Hati gue rasanya remuk kaya dilindas truk kontainer full fill. Gue berusaha nutupin perasaan hati ini. Gua dukung dia sama Puspa\n“Hay Sob. Denger-denger Lu deket ma Puspa. Tembak aja Bro, keburu disamber orang loh.”, tantangku“Nggaklah Li, Gue cuman temenan sama dia. Gue masih sayang sam mantan gue.”, jawabnya lemah“Siapa Sob? Yani kakak kelas kita itu?\n“Bukanlah, Tiara. Lu belum kenal dia kok. Udahlah gue pusing, nggak usah bahas-bahas cewek lagi deh. Capek gue.“Oke.”, jawabku singkat seraya ninggalin dia pergi\nDi luar kelas gue melamun. Rasanya hati ini hancur banget denger pernyataan Widi tadi. Tapi gue bertekad buat nutupin rapat-rapat perasaan ini padanya\nPepatah serapat-rapatnya kamu menyimpan bangkai pasti akhirnya akan kecium juga baunya, mungkin benar. Sepandai-pandainya gue nutupin perasaan hati ini akhirnya Widi pasti tau\n“Sorry Sob, kita sahabatan aja ya. Gue lagi banyak masalah and lagi pengen sendiri.”, katanya padaku\nSebenarnya saat itu ingin rasanya air mataku mengalir tapi ku tahan. Aku tak ingin terlihat lemah di hadapannya. Hati ini hancur berkeping-keping. Memang tak ada yang berubah pada diri kita, kita tetap bersahabat tapi rasa ingin memilikinya seakan membuat diri ini ingin menangis saat di dekatnya. Rasa sayang sebagai seorang sahabat kini telah berubah. Aku sangat mengharapkannya, biarlah semua kan indah pada waktunya.",
"Cerpen Persahabatan – Pesawat Kertas\n“Plukk!” pesawat kertas itu jatuh tepat di depannya. “Mana pesawatnya?” ucap Putri. “Emm mana yaa?” jawab Yono. “Siniin dong, plisss!” pinta Putri. “Ya udah deh, nih” ucap Yono sambil memberikan pesawat kertas itu kepada Putri. “Nah gitu dong” ucap Putri manis. Putri pun memainkan pesawat kertasnya kembali\nPutri memang sangat suka dengan pesawat kertas. Entah, menurutnya pesawat kertas adalah hal yang paling menginspirasi dirinya. “Put, kenapa sih main pesawat terus?” tanya Via teman Putri. “Memangnya kenapa?” balas Putri sinis. “Ya gak apa-apa, kamu itu aneh!” ujar Via. Putri segera berhenti memainkan pesawat kertasnya itu. “Aneh kenapa?” ucap Putri tak mengerti. “Liat dong, semua anak main bareng! Tapi kamu? Asik sama dunia pesawatmu sendiri!” gerutu Via kesal. “Tapi? Ini memang aku! Maaf aku gak mau debat sama kamu! Aku lagi puasa” balas Putri sabar. Via hanya diam membatu setelah mendengar ucapan itu dari Putri, dan ia langsung meninggalkan Putri begitu saja\nPutri merenungi apa yang Via katakan. “Ya Allah, apa benar aku ini salah?” batinnya menangis. “Apa aku sibuk dengan duniaku sendiri? Tapi, ini bukan duniaku! Ini hanyalah cita-citaku saja” perlahan ia mulai meneteskan air mata\nKeesokan harinya, saat istirahat pertama Putri masih diam di tempat duduknya. “Put, kamu kenapa?” tanya Nita, teman Putri. “Ehh, gak gak papa kok” ucap Putri gugup. “Kamu dari tadi melamun? Biasanya kamu main pesawat kertas?” tanya Nita penasaran. “Iya, gak papa” ucap Putri tersenyum tipis. Putri menaruh kepalanya di atas meja. “Kamu sakit Put?” tanya Nita khawatir. “Tidak” balas Putri pendek. “Ya sudah kalau begitu, aku keluar ya?” ucap Nita. “Iya” jawab Putri\nPutri masih memikirkan kejadian yang kemarin, saat dirinya ditegur oleh Via. “Put, aku minta maaf” ucap seseorang menepuk pundak Putri. Serentak Putri menoleh ke arahnya. “Eh Via, Iya gak papa” ucap Putri seraya mengelap air matanya. “Putri kok nangis?” ucap Via penuh rasa bersalah. “Enggak gak papa” ucap Putri menenangkan diri. Tanpa berkata lain, Via langsung memeluk erat Putri. “Maaf yaa, kemarin aku ngomong gitu, karena aku ngerasa kamu gak mau deket sama kita” ucap Via berusaha menjelaskan. “Iya, tapi bukan itu maksudku” Putri berusaha menjawab. “Iya, ya sudahlah tidak usah dibahas kembali” ucap Via menyelesaikan\nDari kejadian itu, Putri membuang jauh-jauh tentang keinginannya untuk menjadi seorang Insinyur Pesawat. Putri tak ingin ada temannya yang merasa ia jauhi karena hanya sebuah pesawat kertas! “Mungkin mereka benar, aku hanya sibuk dengan dunia khayalku” ucap batinnya. Putri segera membuang semua pesawat kertasnya ke dalam tong sampah. “Loh Put kenapa dibuang?” tanya Gigih tak mengerti. “Emm, tak apa” balas Putri ringan. “Kamu itu aneh! Kemarin kamu buat pesawat kertas sampai buku kamu tipis? Sekarang malah dibuang? Mubadzir Put!” ujar Gigih menasehati. Putri diam dan tak tahu harus mengatakan apa. Akhirnya Putri langsung berlari meninggalkan Gigih. Hati Putri sangat kacau saat itu, air matanya terus membasahi pipinya. Putri tak habis pikir, semua yang ia lakukan selalu saja salah\nPutri segera mengambil buku diary yang ada di dalam tasnya. “Dear diary, Putri nggak paham sama semua ini. Hati Putri rapuh! Semua yang Putri lakukan selalu saja salah, Putri bingung Putri harus bagaimana?” tulis Putri pada diary tersebut. Setelah selesai menulis diary, Putri segera menaruhnya kembali ke dalam tas\nDetik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, dan hari berganti hari. Saatnya Putri kembali untuk masuk sekolah. Hari ini hari bagi Putri melaksanakan tugas piket. “Put, ini diisi dulu absensi kelasnya” ujar Aan. “Iya, taruh saja dulu di mejaku” balas Putri yang sedang menyapu lantai kelas. “Oke” ucap Aan sambil meletakkan absensi di meja Putri. Setelah lantai kelas terlihat bersih, Putri segera mengembalikan sapu di pojok kelas, dan segera kembali ke mejanya untuk mengisi absensi kelas\nWaktu pun berputar dengan sangat cepat, tak terasa sudah saatnya pulang. Putri segera meraih tasnya dan segera meninggalkan tempat duduknya. Ketika Putri sedang berjalan keluar kelas tiba-tiba hujan lebat pun turun. “Yahh? Kok hujan?” ucap Putri dengan nada kecewa. Putri pun memutuskan untuk menunggu hujan itu sampai reda. Setelah menunggu beberapa menit, hujan itu belum juga reda. “Pulangnya bagaimana ini?” hati Putri bertanya. Putri kebingungan karena hujan semakin deras. Seketika Putri memandang langit, Putri segera mengeluarkan buku diarynya. “Dear diary, Langit kenapa kamu nangis? Jangan menangis sekarang, cukup aku saja yang merasakan perih ini. Hentikan sekarang juga tangisanmu, aku sedih jika kau sedih. Kumohonn” tulis Putri pada diary tersebut. Ajaibb! Seketika langit langsung memunculkan senyumannya melalui cahaya matahari. Tanpa berpikir panjang, Putri langsung bergegas untuk kembali ke rumah.Pagi pun telah datang kembali. Saatnya berangkat sekolah. Pagi ini Putri kelihatan sangat lesu. “Kenapa? Sakit?” tanya Nikmah. “Tidak” singkatnya. “Tapi wajahmu pucat pasi” tanyanya kembali. “Sudah biasa” balas Putri renyah. “Biasa bagaimana?” ucapnya penasaran. “Sudahlah lupakan saja” ujar Putri. “Hari ini kamu sangat aneh” ucap Nikmah. “Sudah cukup! jangan bilang aku aneh lagi!” gerutu Putri. “Tapi hari ini? Kau tak seriang yang kemarin” ujar Nikmah. “Ya! Karena aku baru saja kehilangan cita-citaku” ucapnya meneteskan air mata. “Cita-citamu? Apa?” tanya Nikmah penasaran. “Insinyur pesawat” celetuk Putri sambil mengelap air matanya. “Kenapa” tanyanya belum mengerti. “Aku bingung, kau tahu kan? Aku sangat suka dengan pesawat? Tapi banyak orang yang merasa, kalau aku menjauhi mereka hanya karena sebuah pesawat kertas? Hanya karena aku sibuk dengan duniaku?” ucapnya dengan air mata yang mengalir\n“Siapa yang merasa? Aku tidak? Aku mendukungmu” ucapnya menenangkan. “Ya! Memang dia bukan kamu” ucap Putri menegaskan. “Lalu siapa?” tanyanya penasaran. “Sudahlah lupakan saja” ucap Putri membuang muka. “Put, percayalah! Jika Insinyur Pesawat adalah hidupmu, pasti kau bisa mencapainya” ucap Nikmah memotivasi. “Iya, tapi aku bingung” ucap Putri dengan hati tak karuan. Nikmah langsung menyobek kertas bukunya. “Nih, tulis saja apa yang kamu rasakan sekarang” perintahnya. “Untuk apa?” tanya Putri tak mengerti. “Sudahlah lakukan saja” perintahnya kembali. “Baiklah” ucap Putri menyerah\nPutri segera menuliskan perasaannya sekarang di kertas yang diberikan oleh Nikmah. “Sudah. Lalu mau kau apakan?” ucap Putri bingung. Tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, Nikmah langsung melipat kertas itu menjadi sebuah pesawat. “Apa maksudnya? Aku tak mengerti” ucap Putri. “Sudah, ayo ikut aku” balas Nikmah sambil menarik tangan Putri. “Heyy! Mau kemana?” bentak Putri. Nikmah tak menghiraukan suara Putri yang terus berteriak. Dan tiba-tiba Nikmah menghentikan langkahnya di depan Laboratorium Bahasa. “Mau apa sih? Malah kesini?” ucap Putri penuh bertanya. “Kamu itu dari tadi cerewet banget sih?” gerutu Nikmah kesal. “Iya iya deh” ucap Putri mengalah. “Sudah terbangkan pesawatmu disini” ucapnya memerintah kembali\n“Baiklah” ujar Putri. Putri segera menerbangkan pesawat kertasnya itu, dan anehnya pesawat itu langsung menghilang, entah kemana. “Loh? Pesawatnya kemana?” ucap Putri keheranan. “Sudahlah, mungkin sudah sampai ke Allah” ujar Nikmah menghibur. “Okee, mungkin saja” ucap Putri penuh dengan senyum. “Ya sudah, kamu kembali ke kelas dulu saja, aku masih ada urusan sebentar” ucap Nikmah. “Ya sudah, aku kembali” ujarnya sambil berlari kecil. Setelah Putri kembali ke kelas, Nikmah segera mencari pesawat milik Putri tadi. “Ini dia!” ucap Nikmah lirih. Setelah itu Nikmah langsung menyimpan pesawat milik Putri tadi di sakunya\n*Teeet* bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Semua murid-murid berhamburan keluar kelas. Tapi beda halnya dengan Nikmah. Ketika bel pulang sekolah berbunyi, ia malah pergi ke perpustakaan. “Hey! Mau kemana kamu?” ujar Putri setengah berteriak. “Emm? Perpustakaan” jawab Nikmah kebingungan. “Ini kan sudah bel pulang? Perpustakaan pastinya sudah tutup” ucap Putri berpendapat. “Biarlah!” celetuk Nikmah. “Ya sudah kalau begitu! Aku pulang!” balas Putri kesal. Putri pun langsung membuang mukanya dan segera pergi meninggalkan Nikmah\nPagi pun telah datang kembali. Hari ini tepat umurnya bertambah menjadi 13 tahun. “Selamat Ulang Tahun Putri” ucap Ibu sambil membawa kue tart. “Wahh, terimakasih Bu” balas Putri sambil mencium ibunya. “Iya sama-sama Put. Ya sudah, pergi mandi dulu sana” ucap Ibunya lembut. “Baik Bu” balasnya menurut\nSetelah selesai, Putri segera bersiap-siap dan segera menuju ke sekolah. Putri berjalan dengan cepat untuk menuju ke kelasnya. “Kok pintunya ditutup? Ini kan masih setengah tujuh?” batinnya bergumam. Putri pun makin mempercepat langkahnya. Ia takut, jika pagi ini ada pelajaran jam nol. Ketika Putri membuka pintu kelasnya, Putri tersentak kaget! Karena teman-teman kelasnya membuat kejutan yang sangat spesial. Putri tercengang, memandangi setiap sudut kelasnya. “Pesawat kertas?” ucap Putri agak keras. “Maaf ya Put, sebenarnya kemarin aku membaca isi pesawat kertas yang kau terbangkan di depan Laboratorium Bahasa” jelasnya meminta maaf. “Kau membacanya?” tanya Putri. “Maaf Put” ucap Nikmah kembali\n“Tak apa. terimakasih atas semua ini. Aku suka” balas Putri penuh senyuman. “Iya Put sama-sama. Happy birthday sahabatku” ucap Nikmah seraya memeluk Putri. “Terimakasih” balas Putri sambil memeluk Nikmah juga. “Putriii..” panggil seseorang. “Via?” ucap Putri sambil menoleh ke arahnya. “Happy birthday yaa” ujarnya sambil menepuk pundak Putri. “Iya, terimakasih” balas Putri. “Maaf ya Put, kemarin aku melarangmu untuk..”. “Sudahlah tak apa” ucap Putri memotong perkataan Via. “Baiklah” ujar Via. “Put.. ini semua sebenarnya ide Via” ucap Yono tiba-tiba. “Oya?” celetuk Putri. “Iyaa Put” timpal Nikmah. “Terimakasih Via. Ini sangat amazing!” ujar Putri sambil memeluk Via. “Iya Put sama-sama” balas Via tersenyum manis\nAkhirnya, Putri dan teman kelasnya pun bergembira bersama dan bersenang-senang dengan semua pesawat kertas!!",
"Cerpen Perpisahan – Senyummu Tangisku\nAku tak ingin dirinya pergi, aku tak ingin melepas cinta yang telah tercipta.. namun begitu banyak masalah harus merelakan semuanya. Aku termenung di bawah rindang taman kota, semilir angin berhembus melambaikan rambutku\n“hey alifah sudah lama kamu di sini?” seorang pria datang dengan bunga dan beberapa makanan kecil di tangannnya“aku baru datang juga kokia tak akan pernah tahu sudah berpa lama aku menunggu.” batinku sedikit\n\nIa menyerahkan bunga dan kami terdiam. “gimana fred, apa kita masih bisa tetap bersama selamanya?, sedangkan orang tuamu menolak dan mengusirku. tanpa alasan” aku berkata memulai pembicaraan\nAlfred duduk disampingku dan termenung beberapa saat. “maafkan aku alifah, aku takut untuk mengatakan ini, tapi kamu tahu kan, orang tua ku tak mengizinkan hubungan kita.” alfred berkata sambil menahan senyum palsunya\n“Sudahlah fred, aku kan sudah bilang, ini bukan jalan terbaik untuk kita, kamu pergi saja dan jangan hiraukan aku.” aku berkata menatap matanyaSepi sekali disini, kami termenung seakan tak saling mengenal setelah sekian lamanya kami menjalin hubungan terlarang ini\nTiba-tiba sebuah kendaraan berhenti dan seorang turun menghampiri kami, ternyata mereka adalah orang tua alfred. Kami berdiri saling berpandangan, dan alfred berjalan lunglai menghadap orang tuanya\nMamanya alfred membisikan sesuatu ke kuping alfred, dan ia berlari ke depanku menatap dan hening beberapa saat\n“maafkan alifah, kamu membuatku tak fokus pada sekolah dan nilaiku berantakan, selamat tinggal. jagan hubungi aku lagi” alfred berkata dan melepaskan tangannya dan berlalu dengan perlu\nBeberapa bulan kemudian\n\naku termenung di kamar. beberpa kali mamaku mengajakku makan, namun aku tak bernafsu. Hp di samping tempat tidurku berdering “halo, ini aku alfred!” Sebuah suara di seberang sana\n“ia kenpa fred” aku berkata singkat memendam semua perasaan dan rindu yang bergejolak\nAlfred bicara panjang lebar dan aku hanya berkata “ya atau tidak?” aku hanya tak ingin mengulang rasa yang telah mati\nAku hanya katakan padanya aku mencintainya sepenuh hatiku. Dan sebagainya\nAku tak ingin alfred tahu kalau sekarang aku telah pindah ke jakarta meneruskan kuliah serta mencoba melupakan semua tentang masa lalu dengannya.. masa di mana aku merasa sangat berarti, dan semua terasa indah.",
"Cerpen Perpisahan – Kegagalan\nPerlahan ku buka sampul binder dari dalam tumpukan baju dalam lemari ku. Di lembar pertama terlihat jelas tulisan lamaku, sebuah kisah luka dengan gambar “Teddy Bear” di pojok kanan atasnya. Tanggal ini dua tahun lalu, tertulis jelas di atas kiri kertas di halaman pertama itu\nSekilas teringat kenangan saat tanggal dalam tulisan binder itu terjadi. Malam itu turun hujan. Seolah Allah memang telah merencanakan kegagalan urutan jadwal yang telah aku susun sehari sebelumnya. Padahal di siang hari sang sumber panas bumi bersinar sangat terik, menandakan tak akan turun hujan hari itu hingga malam. Kini aku sadar, Allah memang sudah mengatur semuanya agar rencana ku batal semua\nAku ingat betul janji Verli yang akan mengajak ku menemui ibunya dihari itu. Sedikit heran memang dengan sikapnya seminggu terakhir sebelum peristiwa itu terjadi. Ia lebih perhatian dari biasanya. Sikapnya manis\n“Nanti aku SMS kamu ya yanq, kalo aku sudah siap mau jemput kamu” Smsnya hadir mengisi layar handphone ku\n“ok. Jam berapa kira-kira kamu jemput aku?\n“ya nanti aku kasih kabar dech\n“kamu lagi apa sich yanq?\n“aku lagi tiduran.\n“haaah? Emang kamu mau jemput aku jam berapa sich? Ini hampir jam satu” aku mulai naik darah. Mau jam berapa lagi dia menjemputku, kalo jam satu siang saja dia masih berbaring santai di ranjang empuknya itu. Sedangkan aku dari tadi mondar-mandir merapikan baju dan make up q\n“Sayanq… Please. Sabar yaa, nanti aq kasi kabar. OK?\naku benar-benar kesal. Segera ku stater scoopy ku\n“Uukh,.. tau gak sich? Verli tu bener-bener ngeselin…!” oceh ku ketika Mini membukakan pintunya setelah mendengar ucapan salam ku yg berulang-ulang\n“Please deh non, jangan marah-marah di sini ya. Aku bukan tempat pelampiasan tau?” Balas Mini dengan nada malas\nAq langsung nyelonong kedalam kamarnya, dengan meraih bantal guling bergambar Hello Kity, q hempaskan tubuhku di atas spring bad Mini\n“Yaa ella… kamu tuh udah cantik, koq malah tiduran? Mau kemana si non?\n“Verli tuh ngeselin banget. Dia janji mau ngenalin aku ke nyokapnya. Tapi di ulur-ulur mulu’. Biasanya dia udah nongol dari jam 11 siang. Ini udah hampir jam 2 dia masih belum nongol. Dari tadi bilangnya mau ngabarin kalo dia udah siap jemput aku. Tapi mana…?\n“Mungkin masih ada yang harus disiapin sama nyokapnya. Secara mau ketemu calon mantua. Hihihi\n“Aku mau numpang mimpi disini\n“OK. Ayooo mama temeni bobok” ucap Mini menggoda ku\nTut…Tut…Tut…\n\nSegera ku raih hp ku yang sedari tadi ku selipkan di bawah bantal\nSayang, Ntar malam aja ya aku jemput kamu. Mama baru pulang tuh\n\nDiterima :\n\n16:12:27\n\nHari ini\n\nDari\n\nChayanq q\n\nAstaga, sudah jam empat lewat. Tapi dia malah membatalkan janji. Darah ku seakan-akan sudah berada di atas kepala. Air mata hampir tumpah karena menahan emosi\n“Mini sayang, aku pulang ya” kugoyang-goyangkan badan Mini berharap ia segera bangun untuk mendengar tangisanku\n\n“eemmm.. Iya.. ati-ati yaa. aku ngantuk banget. See You sayang\nUkh… Tega kamu Min. Aku lagi galau tau’? bangun dong… Pinta ku dalam hati\n\nDengan berat hati ku tinggalkan ruang 3X4 berwarna pink ini. Malas rasanya pulang kerumah. Mood ku bakal bertambah buruk. Apa lagi dengan ditemani foto-foto Verli\nEntah apa rencana Tuhan hari ini. baru saja aku melangkahkan kaki didalam istana ku, turun rintik hujan di iringi angin yang menusuk hingga kedalam tulang. Ini pertanda buruk fikirku. Semoga hanya fikirku. Semoga\nBenar saja. Hujan bertambah semakin deras. Fikiran dan perasaan ku semakin gak karuan. Verli masih tetap tak memberi kabar, padahal timer di layar hp ku sudah menunjukkan angka 19:19. Pasti hujan yang akan menjadi alasan utama saat ia menghubungi ku nanti\ntut…tut…tut… segera ku sambar hp ku setelah nada SMS berdering\n“Yanq, Hujan :(\nApa kataku. HUJAN. Yaa Hujan, aku tau koq, gerutuku dalam hati. Aku terdiam sesaat memikirkan kata-kata yang akan ku ketik untuk balasan SMS menyebalkan itu. Terlalu banyak rasanya emosi yang akan aku sampaikan lewat layar mungil itu. hingga akhirnya kuputuskan untuk menelponnya saja\n“Hallo” Suara lembut penuh ketenangan khas Verli terdengar\n“Kamu tuh ya… jangan mainin perasaan aku donk!\n“Yanq, hujan. Kamu gak mungkin mau hujan-hujanan kan saat ketemu sama mama? Lagian aku takut kamu jadi sakit\n“Iya aku tau koq kalau sekarang hujan. Tapi itu kan salah kamu. Aku udah nungguin kamu dari tadi siang. Tapi kamu nunda-nunda mulu’. Kayaknya kamu emang sengaja dech…!\n“Yanq… tolong dong ngertiin aku. dikit aja\n“harus sampe kapan sih aku ngertiin kamu…? kamu tuh yang gak pernah bisa ngertiin aku..! Kamu emang gak niat kan mau ngenalin aku sama mama kamu?!\n“OK. OK. Aku yang salah, aku minta maaf\n“Bosen tau dengerin ucapan maaf dari mulut kamu. Selalu cuma itu yang kamu lakuin…!\n“Jadi aku harus gimana?\n“Terserah kamu dech maunya gimana. Aku ngikutin aja apa maunya kamu. Aku tau koq, mama kamu pasti gak setuju sama aku. makanya kamu nunda-nunda mulu dari tadi.\n“Yanq bukannya gi…\n“Kenapa gak bilang dari dulu aja kalo kenyataannya emank gitu. Pasti aku gak akan berharap banyak dari kamu dan mungkin sekarang aku udah ngelupain kamu.\n“Yanq, dengerin dulu. Aku bener-bener minta maaf. Aku gak tau kalo kenyataannya harus kayak gini. Kamu bener, mama aku gak bisa terima kamu. Tapi aku sayang kamu Ve…\nPadahal aku hanya asal berucap, tapi nyatanya itu benar. Air mataku sudah tak mampu ku bendung. Untuk meluapkan emosi dalam bentuk cacian pun aku sudah tak sanggup. Kata-kata itu hampir keluar tapi tertahan di kerongkongan ku\n“Ve… Pliss jangan nangis. Aku juga berat mau jalanin semua ini. Jujur, aku sayang banget sama kamu Ve…\nAku tak menjawab apa-apa. Aku hanya mencoba menangkan hati ku\n“Ve… Veli… kita jalani hubungan ini sembunyi-sembunyi aja ya. Ve… Pliss jawab aku. Yanq…\nUcapan lembut Verli malah membuat aku semakin sakit. Air mata yang hampir tertahan pun malah semakin leluasa mengalir\n“Ki… Ta.. Pu..Tuss.. I…ngat… Ver, Hu..kummm… Kar…ma pas…ti …ber…laku. En…tah… p…da a..na…kmu ke…lak a…ta…u pa…da a…dik..mu… Ba…la…sa…n pass..sti a…ka..n le..bih me…nya…kitkann” susah mati aku mencoba bersuara\n\n“Yanq… Jangan putusin aku\n“Gak…!\nTut…Tut…Tut…\n\nSambungan telphone langsung ku matikan. Kutumpahkan semua luka dalam sapu tangan biru hadiah ulang tahun pemberian Verli. Menggunakannya justru malah semakin membuat kenangan manis hari kemarin terukir jelas dalam bayangan mataku. Kini sapu tangan itu kulipat rapi di bagian dalam cover Binder ini\nBeruntung setelah kepergiannya, Allah mempertemukan aku dengan Dino. Lelaki sempurna yang akan menjadi ayah dari janin yang sedang ku jaga dalam rahimku. Kukira aku akan mati, depresi atau bahkan gila setelah berpisah dari Verli. Sekali lagi aku benar-beanar bersyukur. Mungkin jika kami masih menjalin hubungan, aku tak akan pernah menemukan imam terbaik seperti Dino\nBelakangan ku dengar adik perempuan Verli satu-satunya telah hamil tanpa tahu siapa ayah dari janin itu. Aku sempat menyesal pernah mengucap sumpah seperti itu. Mungkin ini bukti Tuhan, hukum karma pasti berlaku.",
"Cerpen Perpisahan – Kaulah Segalanya Di Hidupku\nPerlahan aku berjalan menaiki jalan setapak menuju sebuah danau, bau tanah dari rintik hujan menemaniku menjelajahi petualangan tersebut.. Aku tersenyum melihat sesosok pria telah menungguku. Aku mempercepat langkahku, mencoba menghadapi lebih cepat, tak peduli hujan yang semakin deras, dan beceknya tanah khas pedesaan mengotori rok panjang putihku.\n“Dor~!! Hayo?, ngelamunin aku ya?” ujarku berniat mengagetkannya. “Kamu kok telat banget sih? Tuhkan udah tambah gelap. Lilinnya udah mati semua… terkena air hujan tuh!” jawabnya sambil menatap terus kearah lilin-lilin kecil yang telah padam terkena air hujan. “Lilin berwarna merah, warna kesukaanku”, kataku sambil terus memandangi kearah lili